Dua
21 Juli 2009
Di rumah mungil dengan dua kamar sesak, tempat beberapa penghuninnya mengeluarkan semua hasrat untuk bercanda dan bergulat dalam kehidupan di perantauan. Mengikuti jejak keberhasilan orang-orang yang mendahului dari cerita yang tak lepas dari kesengsaraan dan kepedihan. Seperti hari ini. Entah. Entah bagaimana orang mendefinisikan kehidupan para penghuni. Tapi kepedihan, kelaparan, kesengsaraan, menyatu dengan sedikit kebahagiaan dari canda yang tak selalu serius. Senyum sinis sesekali muncul dan telah mengerutkan dahi para malaikat pembawa keseriusan. Senyum yang terlempar karena keadaan perut –sering dalam beberapa minggu– terus susut karena ongkos hidup untuk sebulan tak kunjung tiba. Matahari terasa semakin panas menambah deras keringat yang nyaris berwarna merah darah. Untuk melebihkan harapan diri dan harapan sepasang manusia yang melahirkan serta membesarkan, semua harus ditelan. Seperti pil pahit namun akhirnya menyembuhkan. Yakin.
Di rumah mungil dengan sedikit halaman berumput ditumbuhi dua pohon mengkudu, juga dua pohon pepaya berdampingan namun tak kunjung berbuah. Halaman rumah mungil berumput dan selalu becek saat hujan turun. Seperti beceknya pikiran-pikiran para pemimpin bangsa ini terhadap kepiluan orang-orang yang tertindas dan termiskinkan oleh keserakahan pembawa bencana berabad-abad. Di sela-sela malam dan pagi selalu saja ada canda dan tawa di bawah pohon mengkudu yang hanya mampu untuk memberikan sedikit keteduhan dengan daun tak rimbun. Canda dan tawa yang lahir dari kerinduan bertemu dengan kebenaran. Kebenaran yang tak pernah takluk di bawah kemegahan materi dan immoralitas. Kebenaran dalam kesetiaan bersama kemanusiaan yang harus diperjuangkan dengan darah dan air mata. Beribu korban mesti bersamanya menyadarkan pikiran penghuni untuk berjuang.
Di rumah mungil dengan dua toilet yang tak berfungsi, mewarnai perjalanan yang tak selalu cerah. Baju dan celana kotor dibiarkan bergantungan membuahkan nuansa kumuh. Nuansa yang akan membuat mual manusia yang tak mampu berjalan sendiri kecuali dengan mainan mobil mewahnya. Manusia-manusia dengan perut yang selalu dipenuhi makanan lezat dan bergizi. Tak seperti penghuni rumah mungil dengan dua toilet buntu terus hanya mampu bermimpi untuk berjalan dengan mobil mewah dan perut selalu terisi. Tak pernah ada kepedulian dengan keadaan itu untuk memberikan makna pada kehidupan. Itulah mengapa kekhawatiran selalu digali untuk menjadi tangga yang membimbing kearah langit yang menampakkan sosok besar para penghuni. Dan hasrat menyatu dengan kepalan tangan dalam menengok kebesaran dan kebijaksanaan terus terngiang dalam labirin yang kadang perlu disucikan.
Di rumah mungil dengan dua pintu yang hampir rusak. Pintu yang hampir rusak. Mengidentikkan jalan-jalan untuk sampai pada tujuan tak henti terbahasakan di tengah dunia tak selalu setia mendengar. Semilir angin selalu masuk melalui lubang-lubang rumah mungil terasa sejuk di antara pagi dan sore. Semilir angin yang tidak diinginkan menjelang malam untuk terlelap dalam kegelapan. Karena selimut tak mampu memberikan kehangatan pada seluruh penghuni. Kedinginan malam selalu mengajak untuk keluar menengok beribu bintang berkilauan menemani langit merindukan kehadiran bulan. Semilir angin selalu membawa bau kotoran kucing yang menggangu waktu-waktu makan itu, memberikan makna baru hari-hari.
Di rumah mungil yang tersedia dua komputer untuk menggoreskan jasad hari-hari dalam kebingungan masa depan. Kesadaran tentang kehidupan tak selalu sama pada perjalanan manusia dalam melukis jejak-jejak kaki tersimpulkan dari lantai rumah mungil. Rumah mungil yang lantainya tak semua beralaskan karpet. Kekurangan yang selalu terpahami oleh kondisi dan pemahaman tentang ketidaksempurnaan setiap kesimpulan yang dibangun dari pikiran relatif manusia. Dari pertanyaan tentang esensi dan wujud kesadaran manusia untuk memahami dirinya, bukan identitas sosoknya, yang sampai detik ini pun tak mampu terjawab.
Di rumah mungil selalu tampak dua sandal jepit berbeda warna. Melangkah menikmati hari-hari dalam pencarian dua makna; “cinta” dan “kesuksesan”.
Sayap-Sayap Rindu
21 Juli 2009
lama tak membagi cerita
engkau di mimpi harapan
masih menunggu cahaya terang
untuk aku bawa kepadamu
lama tak menyentuh jemarimu
lebih asing kudekati
menyatu dalam zat lembut
sehingga hilang rasa duka
angin mendendang cerita
indah menghiasi cakrawala hati
mengingatmu, merenung cinta
lama tak membelai rambutmu
akalku telah terlepas
hanya rasa, memenuhi batin
dalam tenang dekapmu
lama tak mengecup keningmu
tamalanrea, 28 Juni 2009- 01:41 pm